Tuesday, September 26, 2006
sambil menunggu buka
Sambil menunggu buka puasa, browsing resep-resep masakan. Wah, aku kangen makan empek-empek, batagor, gulai ayam, rendang, bubur ayam, opor, tempe penyet, yang berlemak-lemak itu...whuahuahua..

Pokoknya besok aku harus beli ulekan disini. Ulekan yang bentuknya kayak lesung itu..hihihi..aku kepengen masak yang berat-berat hiks..
 
posted by kembang_jepun at 6:02 PM | Permalink | 0 comments
Monday, September 25, 2006
resolusi waktu sahur
Setelah dua hari bersantai karena weekend, sekarang mesti dihadapkan pada kenyataan sebenarnya..oooh hihks. Kamis tanggal 29 besok saya ujian. Hua hua hua..Sistem perkuliahan yang seperti semester pendek tiap mata kuliah 2 bulan--semester ini ada 3 mata kuliah-- mengharuskan saya ikut ujian kali dalam semester ini.

Entah kenapa, dekat ujian gini, mata kayaknya mudah banget ngantuk. Semalam udah bertekad begadang, eee, ternyata tidur juga. Udah gitu bangun sahur jam setengah empat aja mata rasanya masih lengket-lengket gitu. Belum lagi keinget materi yang belum tuntas saya baca dan bayangan saya tentang ujian 6 jam itu. Haaa! enam jam. Iya...glek..ujian 6 jam dengan 2 pertanyaan. Artinya ujian itu bikin paper dan referensi serta teori harus diluar kepala. Wah, enggak masuk akal ni ujian hehe

Oke deh, pagi ini tekad dibulatkan. Tiada chatting, tiada browsing internet, tiada nonton tivi, tiada tidur. Habis sahur ini sampai siang adalah saatnya bergumul dengan buku. Beneran lo ya..
 
posted by kembang_jepun at 4:12 AM | Permalink | 0 comments
Saturday, September 23, 2006
puasa
Puasa hari pertama di Bergen 23 september ini. Jadi, pagi ini saya sudah mulai sahur. Waks, ngantuk. Cuma herannya, disini saya lebih bisa melakukan apapun tepat waktu. Beda waktu di yogya, biar weker dah teriak-teriak, teteup tidur jalan terus. Bangun setengah empat, masak bentar, terus jadilah menu sahur pagi ini: nasi telur hehehe

Puasa di Bergen dimuali subuh kira-kira jam 5 pagi dan magrib jam 8 malam. Sama aja sih ya dengan di Indonesia..disana kan rata-rata jam 4 sampai jam 6 ya..beda sejam, cuman disini lebih adem. Nggak panas banget. Ya, mudah-mudahan puasa kali ini lancar.

Sempet berasa juga, apalagi ngebayangin orang-orang di Bantul yang rumahnya kena gempa. Apalagi kalau ada keluarganya yang jadi korban. Semua pasti tidak akan pernah sama.

Semoga semua cepat pulih. Semoga puasa menjadi momen pencerahan bagi kita semua untuk kehidupan kemanusiaan yang lebih baik.

Selamat puasa
 
posted by kembang_jepun at 4:49 AM | Permalink | 0 comments
Friday, September 22, 2006
tivi baru
Sebenarnya, belinya sudah 3 hari yang lalu. Tepatnya selasa,19 sept 06, Tapi karena kesenangan dengan tv baru, 3 hari ini buka internet cuman buat ngimel. Yah, lumayan lah buat nonton berita. Kebetulan di dorm ini dapat fasilitas tivi kabel 17 channel, ada bbc, national geographik, discovery channel, showtime yang muter film-film kayak HBO, saluran nyonya nyanyi the sound, terus sambungan lokal yang pakai bahasa norsk gitu..

Lumayan, entah kenapa jauhan saya suami bikin aku bisa beli apa-apa murah disini. Hihi, soalnya dia kalo beli apa-apa suka kemahalan. Ikut undian gak pernah menang. Pernah kami beli kamera, hari ini beli besok lihat di toko lain yang ternyata lebih murah, terpautnya 400ribuan lagi huaaaa. hiks, please malah kuingatkan lagi hehe:)Aku dapat tivi ini dengan harga murah banget, dari mahasiswa asal Iran yang buru-buru pulang jumat ini. Jadi dia pulang Jumat ini, dan baru bikin pengumuman jual-jual hari senin minggu yang sama. set set set. udah deh dijual murah banget. Spec-nya tiviku; Grunding 14 inci, berwarna--warnanya bagus banget, ada remote controlnya, masih lumayan baru, dan yang paling penting. Murah banget huhuhuu.

Kalo ada yang bilang turn-off your tv, aduh maap jangan sekarang ya.. disini ndak ada sinetron je. tivi kabel je.nonton berita, film-film keren..hihi, yang dak ada infoteinmen wihihi. ni..gambar tiviku
 
posted by kembang_jepun at 7:06 AM | Permalink | 0 comments
Monday, September 18, 2006
kosmopolitanisme
Saya akan memulai dengan mencoba menerjemahkan secara harfiah. Kamus oxford menyebutkan sebagai gathering from all parts of the world, having wide experience of the world. Kata ini disebut berulangkali oleh Ulrich Beck dalam papernya di jurnal yang saya baca sebagai pengantar tidur, sebagian karena kewajiban, karena esok Rabu saya harus berdiskusi tentang ini di dalam kelas. Sebuah tulisan tentang second age of modernity dan risk society yang sudah akrab ditelinga saya sejak mahasiswa, yang sudah sering dibicarakan oleh komunitas dimana saya berada, yang acapkali dikutip dalam tulisan kehidupan di Kompas (yang lama-lama membosankan itu karena terus menerus mengutip Baudrillard).

Masyarakat paruh kedua modernitas, yang karena revolusi transportasi dan komunikasi membuat terhubung satu sama lain. Yang membuat—meminjam istilah beck less boudanries—membuat orang shop internationally, work internationally, marry internationally, love internationally, research internationally, educated internationally dan segala macam internasionalitas yang lain. Dunia yang eklektis, yang genit, dan penuh warna-warna itu.

Saya menghabiskan tulisan tentang kosmpolitanisme ini minggu lalu. Dan saya masih terus berpikir dalam minggu ini. Kegenitan apa lagi, batin saya. Entah saya yang perasa atau memang dunia seperti ini. Saya merasa, jangan-jangan saya adalah romantik genit, yang bergegas dijalanan basah sebuah tanah bernama Eropa, dengan jaket panjang, di tengah autumn, menuju kampus, bersiap kuliah—educated internationally—yang mengharuskan dan memaksa diri untuk selalu berbahasa Inggris, mengakses jurnal internasional dan perpustakaan yang nyaris tanpa cela dan hambatan…ah, serasa di film-film saja.

Oke, saya melanjutkan membaca sebuah chapter, mengenai hilangnya apa yang disebut dengan Negara bangsa. Negara bangsa tidak lebih dari sekadar jargon yang telah hilang, karena UN adalah Tuhan bagi dunia ini. Beck mengambil eksemplar mengenai perang Kosovo 1999 ketika NATO membombardir Serbia, yang membuktikan bahwa keputusan mengenai sebuah Negara tidak lagi ditentukan oleh Negara bangsa. Tetapi tentu saja oleh kekuatan politik global—yang didekengi oleh adikuasa di dunia ini. Ketika konsep tentang Human right yang tadinya bersifat kolektif dan berdasar teritori kini menjadi human right yang bersifat subyektif dan individual. Semua berdasarkan ide dasar hak asasi yang seragam; hak perempuan, hak anak, hak homoseksual, hak lesbian. Hak yang membuat ilmuwan dan aktivis di Negara ketiga yang the rest sebagai sesuatu yang sangat barat. Interpretasi yang sangat barat, karena dari perspektif ini, mekanisme adat yang pake senjata-senjata tadisional gitu bisa jadi masuk kategori melanggar HAM. Lantas dimana hak-hak komunitas itu?

Selain menekankan pada Negara bangsa, Beck juga menyebut ini dengan space time compression, dimana migrasi dan lalu lalang manusia, pertukaran ekonomi yang luar biasa cepat menjadikan manusia ada dalam level resiko tertentu. Level resiko kerena modernisasi itu sendiri. Resiko yang diproduksi seperti dalam pabrik. Kerusakan lingkungan, kurang air bersih, insekuritas yang semua sistematis, seperti modernisasi itu sendiri.

Mata saya ngantuk dan lelah, di dalam kamar saya yang hangat dan diluar hujan yang terus mendera. Saya sedang berpikir tentang diri saya, dan saya melupakan Beck yang berbicara bahwa dunia adalah ruangan dengan banyak pintu, banyak simpul, seperti friendster itu. Koneksi dan koneksi. Ketemu.

Pikiran saya melayang kemana-mana. Seperti hari yang melelahkan beberapa waktu yang lalu, tentang jaringan, tentang proyek, tentang kerjasama internasional. Tentang universitas saya yang terbata-bata menerjemahkan internasionalitas itu. Tentang mahasiswa yang cantik-tampan-segar-bertelepon genggam-bermobil—yang rasanya kelak tidak akan pantas protes soal harga-harga,terutama harga pendidikan, karena konsumsi sehari-hari mereka sudah lebih tinggi dari konsumsi pendidikan. Sedang saya membayangkan, barangkali saja ada diantara mahasiswa itu yang tidak makan semalam, yang terancam drop out karena tidak punya uang.

Kosmopolitanisme yang saya baca di bukunya Pilliang, yang saya baca setiap minggu di kompas—yang saya bilang lama-lama membosankan. Kosmopolitanisme teman saya yang bekerja di NGO internasional, dan bercerita tentang Zara dan Mango di pojok Manila yang minggu lalu didatanginya: She is mango freak, dan dia blogging untuk orientasi seleranya itu, dan demikian..dan demikian..

Juga saya yang beruntung dengan kehidupan yang teratur. Perempuan, well educated, punya uang, tak pernah kelaparan, ikut gerakan mahasiswa waktu kuliah, punya leisure time, bisa protes, bisa jalan-jalan, bisa mroyek, dapat uang, punya kerja, kursus bahasa inggris, dapat beasiswa, dan segala capital yang bisa membuat saya genit. Kegenitan saya yang setiap malam tidur diatas kabel-kabel. Diasrama mahasiswa lantai sembilan, 24 jam terkoneksi internet, bisa mencintai buku karena saya punya uang untuk membeli dan mencintainya, karena saya tidak pernah punya pengalaman lapar…

Saya tiba-tiba membayangkan mahasiswa yang di pojok kelas, terdiam, berpakaian sederhana, dan barangkali esok pagi drop out karena tidak punya uang. Karena tidak mampu beli buku. Dan saya menduga, mungkin Beck lupa dengan kaum miskin kota, lupa dengan kelompok minoritas yang subsisten, yang boro-boro berpikir soal internet, ketika air bersih saja tidak ada, pada ibu-ibu yang bahkan tidak pernah melihat seperti apa telepon genggam..dan buku dihadapan saya tampak seperti narasi besar. Diantara banyak hal yang sebenarnya kecil.
 
posted by kembang_jepun at 9:33 PM | Permalink | 0 comments
Saturday, September 16, 2006
sekolah, selebihnya bermain-mainlah
Sekolah. Iya, saya sedang berpikir tentang sekolah. Saya sedang menghitung waktu yang telah saya tempuh selama ini untuk menyelesaikan sekolah. Dua di taman kanak-kanak, 6 di sekolah dasar, 6 di sekolah menengah pertama dan atas, dan 4,5 di perguruan tinggi. Total delapan belas setengah tahun saya habiskan untuk berada dalam pendidikan formal. Angka yang tentunya sebagian diantaranya adalah keberuntungan, mengingat tidak banyak yang bisa menempuh pendidikan formal sepanjang ini ditengah harga-harga yang melonjak tinggi termasuk biaya pendidikan.

Saya sedang merekam kembali ingatan saya, pernahkah saya benar-benar belajar secara formal--selain di kelas. Waktu sekolah dasar saya tidak pernah menjadi juara, belajar di rumah hanya saat membuat pe-er. Bapak saya tidak memasukkan anak-anaknya dalam les yang waktu itu sudah mulai marak. Ingat Asana Bina Widya-nya pak Sarwoko? Dulu saya sempat merengek masuk kesana, karena semua teman-teman les disana. Dan Bapak menolak.Karena sebenarnya saya ingin karena teman-teman disana. Bukan karena keinginan sendiri. Bapak saya juga tidak pernah menyuruh saya belajar di rumah. Hanya saat ada pe-er yang menjadi kewajiban saya mengerjakan. Bapak menganggap, cukup anak mendapat beban di sekolah. Selebihnya adalah waktu bermain-main. Waktu untuk di rumah, membantu ibu memasak, membersihkan rumah, dan membaca buku yang kau suka.

Sekarang saya bersyukur dengan cara orangtua saya mendidik saya dulu. Bapak saya tidak pernah memaksakan minat. Ketika saya selalu gagal dengan matematika dan fisika, bapak mengingatkan bahwa saya selalu punya nilai tinggi di pelajaran IPS. Saya pernah sangat kecewa, ketika saya pulang paling akhir ketika mencongak di kelas, dan semua soal adalah soal hitung-hitungan. Saya ingat sekali, bahkan saya kesulitan untuk menjawab perkalian 7x8.

Saya tidak pernah ikut les. Sepulang sekolah saya bermain dengan anak tetangga, sampai sore. Kadangkala, sorenya saya bersepeda bersama bapak, keliling sampai jauh sekali. Bapak juga suka mengajak ke bioskop, ketika film anak-anak seperti beauty and the beast atau home alone diputar. Juga ke Gramedia. Sebelum berangkat, bapak memberi jatah, misalnya 50 ribu, dan bebas memilih buku apapun yang kau mau. Biasanya saya memilih membeli buku enyd blyton, atau astrid lindgren. Wah saya pecinta berat lima sekawan dan pippi.

Sampai sekolah menengah pertama dan atas, sepertinya saya lebih sering bermain-main daripada belajar. Saya tidak pernah menjadi juara kelas kecuali saat kelas satu SD. Tapi saya enggak pernah kena marah. Bahkan SMP saya pernah mendapat nomer buntut--rangking 4o. Lumayan sedih juga waktu itu. Tapi bapak cuma berpesan, "yo sinau meneh". Begitu pula di SMA. Untungnya walau pas-pasan, saya tidak pernah tinggal kelas.

Saya menemukan kebahagiaan sekolah, di SMA ketika penjurusan di IPS. Ketika saya mengucapkan goodbye my love pada fisika dan matematika hehe. Waktu itu, banyak teman saya yang menangis karena hasil rapotnya menunjukkan kalau dia enggak layak masuk IPA dan akhirnya masuk IPS. Sampai sekarang, saya masih heran bin bingung dengan sistem penjurusan yang acakadul seperti ini. Bagaimana mungkin penjurusan tidak didasarkan pada minat, tapi pada nilai. Hingga nilai rata-rata tinggi, dia masuk IPA dan yang rendah lantas dibuang di IPS. Sampai masuk di kelas IPA juga menjadi keinginan bagi sebagian orang tua siswa, sampai ada teman yang menangis dimarahi orang tuanya karena masuk IPS. Tapi saya masuk IPS. Rapot saya rendah. Tapi kalaupun tinggi, saya tetap akan masuk IPS.

Seperti saya bilang tadi, saya menemukan kebahagiaan bersekolah di IPS. Meskipun saya juga lebih banyak bermain-main disana. Tapi saya menemukan sesuatu yang menjadi diri saya. Pada semester satu kelas tiga SMA, saya menetapkan pilihan studi saya di UMPTN pada sosiologi. Hingga akhirnya, selepas SMA saya berada di jurusan Sosiologi. Saya diterima pada pilihan pertama. Pilihan kedua saya Antropologi.

Empat setengah tahun di perguruan tinggi benar-benar saya nikmati. Saya merasa bahwa disinilah saya menemukan tempat bermain yang indah dan menyenangkan. Bukan dari ruang-ruang kelas--karena maaf, dosennya sering kosong, dan bahan kuliahnya tidak up to date (walau tidak semua)--saya menemukan ruang bermain ini dari teman-teman, dari aktivitas yang saya ikuti, dari buku-buku yang saya temui dan diam-diam saya baca--yang sebagian saya pahami dan sebagian tidak. Dan saya cukup beruntung (atau sial?) karena saya bisa selesai tepat waktu.

Jadi dalam waktu 18,5 tahun saya belajar formal, mungkin waktu saya di kelas hanya 8 tahun. Selebihnya adalah waktu bermain.

Jadi bermain-mainlah. Jangan percaya bahwa ilmu hanya datang dari kelas.
 
posted by kembang_jepun at 2:40 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, September 14, 2006
flu
Saya terkena flu: badan demam, tenggorokan sakit dan tersumbat hidungnya. Semalam saya begadang dan baru bisa jatuh tertidur pukul setengah satu pagi. Paginya saya harus bersiap untuk eksaminasi hasil Tb testing. Alhamdulilah negatif. Tapi badan sudah enggak enak rasanya dari pagi. Batuk-batuk terus dan hidung rasanya udah mulai meler.

Habis dari Sundtsgaten, tempat saya dicek tb, saya jalan ke kampus. Rasanya pandangan udah mulai muter-muter, sempat muntah sekali di jalan. Alamak, untung kantung plastik andalan selalu siap. Sampai kampus, badan rasanya capek sekali. Padahal enggak biasanya jalan sejauh itu secapek ini. Langsung masuk ke reading room, karena jam 2 siang ada acara pengenalan pengoperasian perpustakaan online. Yaaa, enggak mau lah ketinggalan acara ini. Makanya saya paksain walau badan enggak karuan. Bener deh, rasanya adem panas gini, dan beberapa kali muntah di kampus hiks. Enggak bisa kemasukan makanan lagi, cuman roti satu aja kecil.

Sampai pulang jam 4 dari kampus, rasanya masih nggak enak. Sampai ajakan Droma, Carol, dan Carme buat belanja jadi nggak menarik buat aku. Whaaa, padahal, hobiku belanja hehe. Pulang ke rumah bareng Siyu. Bergen panas sekali, 25 derajat, padahal kemarin 13 derajat. Rasanya kayak naik bis di Jakarta. Udah gitu bisnya penuh manusia gitu. Please, jangan muntah lagi ya nak..:)

Sampai di rumah, masih harus masak buat bikin makanan. toolong..tapi aku maksain makan dan mengeluarkan semua stok buah-buahan yang ada di kulkas buat dimakan. Habis itu bobok. Lumayan. Sekarang agak enakan. Memang kayaknya tubuh ini harus berdamai dengan cuaca di Bergen yang moody ini secepatnya. Saya yang merasa udah cukup cerewet dengan makanan dan kesehatan ini rupanya masih harus pinter-pinter lagi jaga tubuh. Masih harus ngurangi konsumsi mie instan thailand yum yum yang memang yummi ini...

Bener-bener sehat itu anugrah terindah, apalagi waktu semua harus dijalani sendiri tanpa keluarga seperti ini. Doakan saya sehat dan cepat sembuh ya....
 
posted by kembang_jepun at 8:41 PM | Permalink | 0 comments
Tuesday, September 12, 2006
Sebuah Sore yang Sempurna




Sebuah sore yang sempurna,
di penghujung panas

Secangkir kopi hangat, dan kesendirian yang istimewa
Bunga, air, burung, taman
Ricik, riuh, gelepak sayap, dan deru

Di sebuah bangku panjang
Di sebuah sore yang sempurna
Bersama kesendirian yang menenangkan.

Lille Lungegardsvann, 11 September 2006
 
posted by kembang_jepun at 8:35 PM | Permalink | 0 comments
Friday, September 08, 2006
bakwan lombok rawit
habis kelas, jalan kaki ke bank di downtown, mampir ke spicy place. nemu lombok rawit..waaah, padahal kemarin-kemarin enggak ada. harganya cuma 10 kroner lagi. mau pulang, mampir lagi ke rema, beli gandum dan udang. pulang, masak bakwan..sreng..sreng..
jadilah bakwan goreng panas. dimakan sama yunita. waaah, enak, serasa lagi piknik di kaliurang.



 
posted by kembang_jepun at 11:35 PM | Permalink | 1 comments
I'm 25 going to 26
Saya menulis ini pukul 23.45 waktu Indonesia atau 18.46 waktu di Bergen. seperempat jam lagi, Insya Allah saya menjadi 26.

Tuhan, ijinkan saya mengucapkan harapan saya Jadikan saya manusia yang baik. jadikan saya manusia yang tidak lelah berjuang. jadikan saya orang yang jujur dan rendah hati. jadikan hidup saya penuh cinta dari sesama, dari teman, keluarga, saudara dan siapa saja. jadikan saya manusia yang menebar manfaat bagi siapa saja.

jadikan saya manusia yang melihat dunia...dunia yang tanpa kekerasan, dunia yang tanpa diskriminasi, dunia yang lebih baik. semoga tidak ada lagi gempa bumi, dan bencana alam lain, tidak ada kerusakan lingkungan. semoga tidak ada perang--perang suku, agama, etnik, atau perang-perangan (jangan membelikan anak mainan senjata!), tidak ada militer, dan tidak ada pabrik senjata... (ini bukan titipan LSM atau gerakan mahasiswa lo...hihihi)

itu tadi yang standar dan umum..ini yang lebih spesifik semoga saya tetap sehat, panjang umur, murah rejeki, bisa jadi istri yang baik, bisa jadi anak yang baik, dan Insya Allah bisa jadi ibu yang baik, dan menjadi orang baik bagi siapa saja. semoga studi saya lancar, dan hari-hari saya seterusnya lancar, semoga saya memperoleh banyak pengalaman yang memperkaya batin saya. semoga saya menjadi orang yang mawas diri. tidak cepat puas dan tidak merasa sombong atas kenikmatan yang Engkau berikan, tidak cepat menyerah, dan selalu mencintai sebuah proses. Amin
 
posted by kembang_jepun at 10:54 PM | Permalink | 0 comments
Monday, September 04, 2006
kecap ABC dan saya

Sore ini saya berdiam di kamar. Banyak yang saya pikirkan hari ini. Selain itu, saya juga harus mulai berdamai dengan cuaca di Bergen yang moody. Dalam sekejap cuaca bisa panas, dan dalam sekejap hujan sangat lebat. Mungkin dalam sehari cuaca bisa berubah sampai puluhan kali. Misalnya, tadi pagi saya berangkat ke kampus, dalam cuaca yang sangat gelap, padahal sudah pukul 10 pagi, di dalam bis kota, matahari sudah mulai cerah, di kota, di dekat kampus, cuaca sudah panas. Setiap hari, saya memakai sweater dan jaket sekaligus untuk menahan hawa dingin, dan setiap kali harus bersiap melepasnya jika matahari muncul, dan saya terasa panas. Ini karena cuaca masih setengah-setengah, pergantian dari summer ke autumn. Pepohonan masih hijau, bunga-bunga masih mekar, tapi setiap hari hujan turun, panas dan gelap dalam satu waktu.

Yah, itu tentang cuaca. Sembari menunggu kartu saya untuk reading room diaktivasi, saya seringkali menghabiskan waktu saya di rumah. Dan dari balik jendela saya mengamati tiap perubahan cuaca. Dari dalam kamar saya d fantoft yang nyaman ini. Dan satu lagi, hujan juga membuat saya gampang lapar dan membuat saya sering makan. Saya menyimpan persediaan makanan yang lumayan banyak di dapur saya yang mungil dan bersih. Ehm! Inilah kalau kampus dekat dengan downtown. Tidak sulit bagi saya untuk mencapai toko-toko Asia—misalnya Eksotiks Tork, Ahsan International, China tork, dll, juga supermarket yang menawarkan harga murah di Bergen, seperti Rema 1000 atau Rimi. Setiap pulang dari kampus, saya selalu menyempatkan untuk berbelanja sayur, atau apapun. Meski saya suka mencak-mencak kalo mengkonversi harga-harga di kroner dengan rupiah, saya bukan tipe orang yang hemat (baca: pelit) seperti mahasiswa Indonesia pada umumnya (maaf kalau menggeneralisir) yang amat mengencangkan ikat pinggang demi penumpukan tabungan, hehehe. Karena itu, bisa dibilang saya sangat royal, dalam belanja, khususnya mencoba makanan yang ada disini. Walaupun kalau beli di restoran pastilah uang beasiswa saya amat tidak cukup, saya mencoba mengakali dengan membeli produk kemasan yang biasa dijual di supermarket.

Mmm, cintai makanan di mana kamu tinggal. Maka kamu akan mencintai tempat itu. Saya lantas hari ini sibuk berpikir tentang makanan. Hari ini pikiran saya penuh dengan makanan. Dan hari ini saya kelaparan di dalam kelas, ketika kami sedang belajar tentang strukturasi dan habitus. Seorang professor saya yang sangat mengimani bourdieu, bercerita dengan semangatnya tentang habitus dan strukturasi, tentang ranah practice of theory dan kapitalisme. serta sebuah buku yang harus tuntas dibaca, karena besok rabu kami sekelas akan dibagi dalam dua kubu: satu mempresentasikan pemikiran bourdieu, dan yang lain membuat bantahan dan menjadi kritikus bagi pemikiran bourdieu.

Tapi saya tetap berpikir tentang makanan. Perut saya berbunyi, karena saya sangat lapar. Waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan itu memang saat untuk makan. Saya membayangkan empek-empek, saya membayangkan siomay, tempura, lotek sagan, pecel lele…saya membayangkan rumah. Dulu, ketika belum menikah, pada sore hari di waktu hujan, ibu seringkali memasak makanan hangat. Ibu memasak bakmi godog, pisang goring, atau sari kacang hijau.

Saya membayangkan makanan, yang membuat saya rindu rumah, yang membuat saya kangen ibu. Dan dosen saya terus berbicara tentang habitus. Kuliah selesai, dan saya mampir sejenak ke gedung sebelah, untuk berkunjung ke center (semacam pusat studinya lah), dan setelah itu saya pulang. Saya berpikir, saya akan memasak hari ini. Saya mampir, dan mencoba satu makanan baru: makarel bumbu merica.

Lantas saya memasak makarel ini. dan makarel bumbu merica ini akhirnya tidak saya makan, bau dan rasa yang aneh. Dan tiba-tiba saya teringat kata-kata: cintailah makanan dimana kamu berada, maka kamu akan mencintai tempatnya. Saya memaksa untuk makan tapi tidak bisa. Dan saya membuka lemari di dapur saya, astaga, ternyata masih ada “harta benda” yang made in Indonesia, masih ada ¼ kg abon, 5 bungkus samabal pecel, 7 buah indomie, 1 botol sambal pedas manis, dan bumbu-bumbu aneka macam yang belum juga saya gunakan. Makanan memang dekat dengan cinta. Pikiran saya lantas terbang pada Indonesia, makanan “kotor” yang saya beli di pinggir jalan tidak hanya berdimensi rasionalitas, bukan karena saya butuh makan, tetapi karena saya suka. Saya akhirnya memasak satu menu istimewa siang ini: nasi telur dadar dengan lauk abon.

Saya memakan karena saya suka. Dan saya yang bahagia setengah mati menemukan kecap ABC di eksotiks tork, seharga 60 kron untuk 500 ml (Rp 90.000), seperti kebanggaan saya melihat sambal ABC di sebuah toko makanan timur tengah bernama Babylon. Walau saya sering mencak-mencak dan komplain tentang Indonesia, korupsinya, ruwetnya, polusinya…tapi tidak terlukiskan kebanggaan saya ketika melihat kecap made in Indonesia dijual di Bergen, dan tidak dapat dilukiskan kegondokan saya ketika melihat produk “Sambel Oelek” dan “Sambal Manado” dengan tulisan Made in Thailand..

Saya menatap dari balik jendela, dan burung-burung terbang dalam kerumunan. Mungkin mereka hendak ke selatan, karena sebentar lagi akan gugur dan menjadi dingin. Saya jadi teringat program discovery channel yang merekam perjalanan ke selatan. Perjalanan yang pasti teramat jauh, dan beberapa diantaranya tidak akan bertahan..jumlah mereka akan sangat berkurang ketika tiba di selatan. Dan melihat kerumunan, kembali mengingatkan saya pada identitas saya disini. Dan mengingatkan saya pada kecap ABC. Hehehe, enggak lucu banget ya..saya tidak dibayar sama kecap ABC untuk jadi bintang iklannya, tapi saya dengan bangganya menunjukkan pada teman Cina saya tentang produk Indonesia, dan kecap ABC juga bukan agen nasionalisme, kecap ABC adalah raksasa industri makanan di Indonesia, yang saya baca di kompas on line beberapa hari yang lalu sebagai penguasa produk kecap dan saus karena menguasai lebih dari 50% pasaran kecap dan saus. Kecap ABC yang saya cintai ini adalah produk yang di Indonesia telah menggusur ribuan indutri kecap rumah tangga..

Saya mungkin tipikal manusia produk postindustrial yang tersasar di bagian utara bumi ini..ketika saya 24 jam terhubung lewat kabel-kabel. Sering sekali berbicara dengan suami saya lewat chatting, bertemu teman-teman setiap hari dan menyapa mereka, mengup date berita tentang Indonesia dari Internet, dan menelpon rumah seminggu 2 kali…tapi saya kangen Indonesia gara-gara kecap ABC. saya tidak lagi berpikir tentang harga, saya tidak lagi berpikir rasionalitas uang. Tetapi saya berpikir tentang ingatan saya pada ibu, ingatan saya pada rumah, dan pada makanan yang telah saya lahap selama lebih dari 25 tahun ini…saya tidak berpikir lagi soal harga, walaupun beasiswa saya ini mepet, walaupun ini akhir bulan, dan walaupun ada banyak buku yang harus saya beli.

Inilah saya. Manusia postindustrial yang identitasnya ditentukan oleh kecap ABC. Ketika di kelas dari Leif—profesor itu berbicara mengenai indentitas yang diwakili oleh konsumsi, identitas yang bukan lagi kelas tapi lebih individual. Ketika pasar tidak lagi mementingkan jumlah konsumen yang banyak, tetapi konsumen yang loyal (dan banyak juga).

Dari makanan di dapur saya, ingatan saya tentang rumah, dan kecap ABC tadi..saya menyadari bahwa ternyata pengetahuan saya tentang kecap ABC adalah pengetahuan yang melekat dan saya bawa meskipun saya telah berada nun jauh di sini. Dan “penemuan” saya pada kecap ABC di Bergen, membawa saya pada identitas yang lebih besar. Yang maha melekat. Identitas saya sebagai orang Indonesia, identitas saya sebagai Asia, dan identitas saya sebagai Muslim—karena saya selalu mencari daging dan sosis halal di toko ini.

Identitas saya yang bermula dari kecap ABC. Habitus yang melekat dalam ruang ketidaksadaran saya tentang makanan. Ketika pertama kali gigi saya kuat untuk memakan daging, yang saya makan adalah daging dengan kecap, ketika saya makan nasi goreng bikinan ibu, yang saya makan adalah nasi goreng dengan kecap..dan saluran televisi di rumah saya selalu menayangkan iklan kecap dengan keluarga yang bahagia sebagai ilustrasinya..

Ingatan saya berlari pada eyang saya—yang konon ketika bapak saya kecil, hidup dari usaha membuat kecap rumah tangga berlabel AZ (singkatan dari Ainnul Hayat dan Zubair—nama mbah dan eyang saya), dan kecap itu beredar di sekitar kotagede saja. Kecap ABC telah mengaburkan ingatan saya akan tergusurnya kecap AZ dan kecap local lain, yang dibuat oleh tangan-tangan ibu-ibu, dikemas secara sederhana, dan yang pasti—tidak akan lulus sensor di bandara ketika saya bawa ke luar negeri.

Ya, itulah mengapa kekuasaan kecap ABC kini lebih besar daripada kekuasaan seorang duta besar. Inilah mengapa, saya merasa nyaman ada di Bergen setelah tahu ada kecap ABC di eksotiks torg, dan saya merasa tidak terlalu pusing walaupun tidak ada konsulat Indonesia yang ada di Bergen—bahkan hingga kini saya belum melaporkan kedatangan saya di KBRI

Sadar atau tidak, sayalah agen kecap ABC. Saya adalah pelaku dan bagian dari kekuasaan yang menyebar dalam setiap detak jantung kita. Saya adalah bagian pelaku kekuasaan itu karena saya mencari rasa aman dan nyaman tinggal disini melalui kecap ABC—tidak dengan cara membuat sendiri kecap dari kedelai karena memang saya tidak bisa membuatnya, dan tidak memiliki pengetahuan untuk membuatnya.

Mmm, entahlah….membelinya memang terasa lebih mudah, apalagi memakannya tanpa berpikir haha
(to be continued..)
 
posted by kembang_jepun at 8:39 PM | Permalink | 0 comments
Friday, September 01, 2006
teman-teman baruku
bergaul dengan banyak orang memang memperkaya batin. apalagi ketika kita beruntung bertemu dan mengenal banyak orang dari berbagai macam latar belakang: kultur yang berbeda, wilayah geografis yang berbeda, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda..

saya bersyukur saya memiliki kesempatan itu. bertemu dan berkawan dengan orang yang latar belakangnya berbeda-beda. teman-teman sekelas saya, 13 orang, dan berasal dari negara-negara di asia, afrika, amerika Latin, dan eropa. kebanyakan dari kami berasal dari negara-negara dunia ketiga (baca:miskin) dan negara yang sedang atau pernah dilanda perang dan kelaparan. kami tidak butuh waktu lama untuk menjadi akrab, meskipun beberapa diantara kami menemui kendala bahasa.

saya selalu takjub dengan banyak hal yang saya temui dari pertemanan ini. dan saya takjub dengan pengalaman baru yang saya temukan disini. seperti teman saya dari tibet, yang sangat keheranan melihat saya kedinginan meskipun sedang summer disini--orang-orang membuka baju dan menikmati sore hari dengan berolahraga atau belajar bersama di taman--sedangkan saya kedinginan dan memakai jaket tebal. ya gimana enggak, dia tinggal di daerah yang sepanjang tahun dingin.. sementara saya juga sangat heran dengan teman tibet saya yang memutuskan tidak berlangganan bus dan memilih untuk berjalan kaki karena dia menganggap jarak antara fantoft (asrama kami) dengan kampus tidak terlalu jauh. padahal ya ampuuun! 6 kilo bukan jarak yang dekat untuk jalan kaki kan? hehe, dia tidak merasa jarak itu jauh, karena di tibet dia terbiasa kemana-mana jalan kaki.

sementara, teman dari india sering membuat kami bingung karena dia menggelengkan kepala kalo bilang "iya". teman dari jepang sering mengantuk di kelas, dan dia mengaku kalau dia sini dia menjadi mudah mengantuk karena ritme disini sangat lambat bagi dia (walo benernya dia menikmati itu..whehehe, ya jelas lah ya jeng, kamu biasa kerja overtime dan disini waktu kamu mewah banget. terus teman saya yang dari peru..apa ya..enggak ada yang spesifik dari anak ini...tapi oya..dia selalu jadi bahan ejekan. soalnya pernah kami (aku, siyu--dari cina, dan dia) berangkat bareng naik bis..lha waktu turun kok dia enggak ikutan turun, rupanya dia kebablasan, dan waktu aku cerita di kelas rupanya temen-temen yang punya pengalaman bareng dia ngomong kalo dia emang jagonya kebablasan hehehe. dia juga enggak habis jadi bahan ejekan, karena dia beli sapu harganya 98 kron (Rp147.000), padahal harga normal cuman 30-an kron. hehehe, sampai sekarang kalo dia diingetin masih suka nyesel nggak abis-abis. You are so rich, man hahaha..ada juga mr. power relation dari ethiophia karena setiap kali diskusi dia selalu membahas relasi kuasa, dia selalu mengatakan i'm postmodernist,but at all, anaknya cerdas juga. ada juga ibu kita bersama, dari mozambique, dia yang sering membantu kita kalau ada kesulitan, terutama soal bahasa...baik sekali orangnya.

mmm, apa lagi ya? oya, dan yang lucu, banyak diantara kami yang tidak familiar dengan mesin. mesin bikin kopi, mesin bikin sup, mesin coca-cola, mesin laundry, sampai mesin kondom. dan kami dengan gumunannya mencoba mengoperasikan ini sama-sama. ternyata mudah, cuman kami enggak pede aja hehe. mm, last but not least, yang satu ini, tentang teman saya dari cina. namanya siyu. dia berasal dari yunnan, perbatasan dengan wilayah burma, anak desa, amat jarang pergi kemana-mana, bahkan ke beijing sekalipun. waktu boat trip, dia orang yang paling gumunan. beberapa hari kemudian dia cerita padaku.."I'm so happy in here...you know, the boat trip yesterday was my first sea experience.."..dia tidak pernah melihat laut seumur hidupnya. baru kali ini dia melihat laut. selama ini dia melihat laut hanya dari buku dan televisi.

jadi terharu..aku juga bilang padanya "the coming winter also will be my first snow experience". Insya Allah..mungkin dia jadi terharu juga ya....:)
 
posted by kembang_jepun at 7:13 PM | Permalink | 0 comments
ulang tahun pernikahan
Daisypath Ticker