Saturday, October 07, 2006
being minority
Seperti apa menjadi minoritas. Seorang teman, mbak Didin "Tri Susdinarjanti" yang merasakan tinggal 2 tahun di Bangkok, pernah berkata pada saya, bersyukurlah punya kesempatan merasakan hidup dan tinggal di tempat yang jauh berbeda dengan tanah kelahiranmu. Pengalaman itu akan membentukmu menjadi seorang yang lebih toleran. Saya hanya mengiyakan waktu itu, tanpa benar-benar mengerti bagaimana rasanya.

Sekarang, walau belum benar-benar mengerti, saya mencoba memahami dan menikmati kehidupan sebagai minoritas. Sebagai 1 dari 2 mahasiswa Indonesia yang ada di Bergen. Dua mahasiswa Indonesia saja di Bergen. Dua dari 250 juta lebih warga Indonesia. Satu hal yang saya anggap keberuntungan--walau kadang saya meratapinya:) Tapi hingga detik ini, saya masih menganggap keberuntungan. Tinggal di negara dan kota yang sangat sedikit warga Indonesianya, membuat saya tidak tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) manapun, tidak pernah pakai bahasa Indonesia--kecuali dengan satu-satunya teman Indonesia saya (yang tidak setiap hari bertemu juga), tidak pernah bikin acara jalan-jalan atau pengajian atau merayakan hari besar keagamaan. Pendek kata, kondisi ini menyebabkan saya harus survive; menjadi diri saya, berdamai dengan banyak hal: perbedaan budaya, makanan, cara bicara, dan cara mengekspresikan perasaan. Tapi justru karena ini, karena tidak ada orang Indonesia, saya bersyukur memiliki pengalaman persahabatan yang indah dengan teman-teman yang lintas bangsa; dari China, Uganda, Norway, Tibet, dan dari berbagai negara yang lain..

Saya harus tetap survive untuk banyak hal. Dengan bahasa Inggris--sebagus-bagusnya bahasa Inggris Anda, anda tetap bukan native. Dengan bahasa Norsk--belajar mengucap kata dalam bahasa Norway ketika membeli makanan di Supermarket (walau disini orang pintar berbahasa Inggris), dan bahagianya hati saya ketika bisa menanyakan sesuatu dalam bahasa Norsk. Survive di kelas. Bergulat dengan buku dan beradaptasi dengan sistem pendidikan, belajar tekun dengan bahan bacaan dan essay-essay yang harus dikerjakan. Selalu berteman sebanyak-banyaknya, belajar untuk selalu open-mind. Juga cuaca yang sama sekali berbeda. Juga makanan, survive dengan belajar memasak beraneka ragam makanan, masuk ke toko Asia dan menemukan representasi atas Indonesia di sana..

Satu hal selain apa yang sudah disebut diatas, saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Menjadi orang yang warna kulitnya berbeda, penampilannya berbeda, dialek yang berbeda--bagi mereka mungkin saya clumsy english, clumsy norsk, dan selera yang berbeda. Saya beruntung tinggal di kota yang indah dan sangat ramah, walau demikian saya pernah mendapatkan perlakukan rasis walau bisa dihitung jari. Tapi saya tidak hentinya bersyukur, saya tinggal di kota yang sangat menyenangkan, orang-orang ramah, kehidupan yang teratur, tidak hingar, dengan fasilitas yang baik, dan pemandangan alam yang luar biasa indah. Saya beruntung berada di kehidupan kampus dan akademik yang profesional, yang humble, dan mengencourage saya untuk memperbaiki segala kekurangan saya.

Menjadi minoritas. Hal yang memperkaya saya karena selama ini saya tinggal di tempat kelahiran saya. Berada diantara orang yang secara fisik dan kepercayaan sama. Tidak pernah mengalami goncangan budaya, tidak pernah kesulitan makanan, tidak pernah kesulitan cuaca. Disini saya bergabung dengan kaum diaspora lain, yang telah tinggal di Bergen selama puluhan tahun, bahkan mungkin sejak mereka dilahirkan. Saya berada di jalan-jalan, dimana kaum pendatang bekerja sebagai penyapu jalan, pembersih kantor, atau penjaga toko Asia. Saya yang tetap dianggap Asia, saya yang tetap berbeda. Saya yang butuh survive untuk deal dengan banyak hal. Karena itu, saya tidak membayangkan bagaimana jika dunia ini penuh dengan prasangka ras, prasangka agama, dan kebencian-kebencian lain. Barangkali saya sudah habis sejak awal. Barangkali..

Barangkali. Saya merasakan bahwa betapa nyaman dan indahnya hidup dalam perbedaan. Hidup dalam warna. Segala pengalaman yang jauh lebih penting dari bangku kuliah yang hanya seminggu tiga kali. Pengalaman yang mengajarkan saya untuk lebih menghormati perbedaan.
 
posted by kembang_jepun at 10:48 AM | Permalink |


0 Comments:


ulang tahun pernikahan
Daisypath Ticker